Rabu, 24 Oktober 2012

Ubi dan Kentut


Peni sangat suka makan ubi, tapi sayangnya itu membuatnya buang gas

berkali-kali dengan bau yang menyesakkan hidung. Ketika ia menjalin hubungan

dengan Roni, Peni rela melepaskan hobinya makan ubi karena takut Roni akan

meninggalkannya.

Mereka akhirnya menikah dan tinggal serumah. Suatu hari sepulang kerja,

mobil Peni mogok di tengah jalan. Peni memutuskan untuk berjalan kaki menuju

ke rumahnya, toh tidak begitu jauh. Ketika itulah ia melihat abang gorengan

dengan tumpukan ubinya yang menggoda.

Seakan balas dendam, Peni membeli sebanyak-banyaknya. Pikirnya ia kan

membuang gas sepanjang jalan pulang dan ketika tiba di rumah, diharapkan

kentutnya sudah habis terbuang. Sesampainya di rumah, Roni menyambutnya

dengan gembira.

"Pen, aku ingin memberimu kejutan. Tapi aku tutup dulu ya matamu," kata Roni

sambil menutup mata Peni dengan saputangan. Dibimbingnya Peni untuk duduk di

kursi meja makan.

Ketika Roni mau membuka tutup mata Peni, terdengar dering telepon.

"Sebentar, aku jawab telepon dulu. Nggak boleh ngintip lho ya," pesan Roni.

Begitu Roni berlalu, tiba-tiba perut Peni terasa mulas tanda-tanda akan

kentut. Tak tahan lagi, segera ia keluarkan gas dari dalam perutnya dengan

bunyi tidak tanggung-tanggung dan bau yang busuk.

Peni menyambar serbet di meja dan mengibas-ngibaskannya untuk mengusir bau

kentutnya sendiri. Hal ini berlangsung beberapa kali sampai kemudian

terdengar Roni menutup telepon. Peni memasang senyum semanis mungkin dan

Roni pun membuka tutup matanya.

Di depannya tampak sebuah kue ulang tahun plus enam orang teman dan

saudaranya yang sedang menutup hidung dan menahan tawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar