Peni sangat suka
makan ubi, tapi sayangnya itu membuatnya buang gas
berkali-kali dengan
bau yang menyesakkan hidung. Ketika ia menjalin hubungan
dengan Roni, Peni
rela melepaskan hobinya makan ubi karena takut Roni akan
meninggalkannya.
Mereka akhirnya
menikah dan tinggal serumah. Suatu hari sepulang kerja,
mobil Peni mogok di
tengah jalan. Peni memutuskan untuk berjalan kaki menuju
ke rumahnya, toh
tidak begitu jauh. Ketika itulah ia melihat abang gorengan
dengan tumpukan
ubinya yang menggoda.
Seakan balas dendam,
Peni membeli sebanyak-banyaknya. Pikirnya ia kan
membuang gas
sepanjang jalan pulang dan ketika tiba di rumah, diharapkan
kentutnya sudah
habis terbuang. Sesampainya di rumah, Roni menyambutnya
dengan gembira.
"Pen, aku ingin
memberimu kejutan. Tapi aku tutup dulu ya matamu," kata Roni
sambil menutup mata
Peni dengan saputangan. Dibimbingnya Peni untuk duduk di
kursi meja makan.
Ketika Roni mau
membuka tutup mata Peni, terdengar dering telepon.
"Sebentar, aku
jawab telepon dulu. Nggak boleh ngintip lho ya," pesan Roni.
Begitu Roni berlalu,
tiba-tiba perut Peni terasa mulas tanda-tanda akan
kentut. Tak tahan
lagi, segera ia keluarkan gas dari dalam perutnya dengan
bunyi tidak
tanggung-tanggung dan bau yang busuk.
Peni menyambar
serbet di meja dan mengibas-ngibaskannya untuk mengusir bau
kentutnya sendiri.
Hal ini berlangsung beberapa kali sampai kemudian
terdengar Roni
menutup telepon. Peni memasang senyum semanis mungkin dan
Roni pun membuka
tutup matanya.
Di depannya tampak
sebuah kue ulang tahun plus enam orang teman dan
saudaranya yang
sedang menutup hidung dan menahan tawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar